Gempa Bumi Di Dili, Timor Leste

Timor Leste

Timor Leste

Gempa bumi tektonik dengan kekuatan berapa (?) Scala Richter mengguncang Ibukota Dili selama kurang lebih 20 detik pada pakul 20.12 Waktu Timor Leste. Lumayan kuat dan membuat jantung deg-degan…Sepertinya ini rangkaian dari gempa bumi tektonik yang terjadi di Tual/Pulau Tanimbar, Maluku Tenggara Jauh kemarin yang berkekuatan 5,1 SR.

Natal dan Tahun Baru 2013 yang Sepi (Dili, Timor Leste)

Natal dan Tahun Baru 2013 yang Sepi (Dili, Timor Leste)

Dibanding tahun-tahun yang lalu, suasana Natal dan menjelang datangnya tahun baru 2013 ini terasa sangat sepi. Keramaian Natal tidak lagi terjadi di Ibukota Dili, padahal mayoritas mutlak penduduknya beragama Katholik.

Masyarakat, sepertinya berada dalam kondisi dan situasi yang ‘disoriented’, yakni sebuah situasi yang menyebabkan hilangnya semangat dan roh kehidupan. Masyarakat, sepertinya berada dalam situasi kejenuhan.

Col-mera sebagai pusat perbelanjaan juga menghadapi hal yang serupa: sepi. Tak banyak pembeli yang berdatangan. Mungkin faktornya adalah banyak anggota masyarakat yang kurang memiliki uang; atau dapat saja memiliki uang namun tidak tahu, hendak diapakan uang-uang tersebut.

Sepinya Natal juga dapat dilihat dari sepinya aktivitas anak-anak muda perkampungan dalam pembuatan simbol-simbol Natal, seperti pembuatan gua-gua-an (prejepiu). Jika tahun-tahun sebelumnya, aktivitas demikian hampir terjadi dan dapat dijumpai dalam setiap bairo atau gang perkampungan di Kota Dili, maka untuk tahun ini tidak terlihat lagi.

Dan, masih banyak tanda-tanda disoriented lainnya. Tentunya, ini akan berujung pada situasi di mana anarkhisme sosial dapat muncul. Masyarakat yang jenuh secara berterus-terusan akan melahirkan sikap yang cenderung agresif. ini bertanda dari tidak terkontrolnya emosi masing-masing orang. Jadi, akan banyak orang-orang yang mudah terpancing akan hawa amarahnya.

Situasi sebagaimana dijelaskan di atas, agaknya akan berlangsung cukup lama. Celakanya lagi, dialektika yang terjadi dalam masyarakat Timor Leste dalam hal mengganti situasi selalu diwarnai dengan kekerasan. Pertanyaannya, apakah situasi ini akan berujung pada lahirnya kekerasan di kemudian hari?

Dili, 21-12-2012

This entry was posted on 21 Desember 2012. 4 Komentar

SATPOL PP VS. ANAK PENJUAL SAYUR (Atambua, Timor Barat)

SATPOL PP VS. ANAK PENJUAL SAYUR

Gambar

Senja, di sisa-sisa keramaian Pasar Baru Atambua

Di antara deretan toko yang mulai ditinggalkan pengunjungnya

Di antara jalanan searah yang mulai dilanggar penggunanya

Sebuah motor patroli melaju melawan arah

Senja, di sisa-sia keramaian Pasar Baru Atambua

Di depan sebuah toko sembako milik warga keturunan Cina,

Beberapa orang sedang menaikkan barang belian ke dalam mikrolet yang diparkir di depannya.

Sisa-sisa keramaian di waktu senja itu pun tersontak bangun

Seorang petugas Satpol PP dengan mengendarai motor patrolinya,

Tiba-tiba memasuki halaman toko.

Bersamaan dengan itu,

Seorang anak belasan tahun tiba-tiba berlari ke jalan raya.

Sebatang kayu sebagai pemikul sayur dagangannya dipegang erat-erat.

Ia terus berlari,

Dan Satpol PP itu pun terus mengejar dengan motor dan bunyi klakson yang memekikkan gendang telinga

Si Anak Penjual sayur itu terus berlari di antara laju kendaraan,

Sambil sesekali menepi di emperan pertokoan

Tepat di ujung gang sempit,

Anak belasan tahun itu menghentikan larinya.

Sesaat ia berdiri sambil membalikan tubuhnya.

Sebuah senyum merekah di antara hitam legamnya kulit yang dibungkus baju putih kusut dan celana biru yang kehitaman,  keritingnya rambut, dan tebalnya telapak kaki yang tak beralas.

Dengan jalan berlenggang ia memasuki mulut gang,

Sang Polisi Pamong Projo itupun mengumpat-ngumpat dari atas motornya…

Terhenti tepat di mulut gang, di tempat si anak penjual itu berdiri sebelumnya.

Bagi si anak penjual sayur, mungkin melenggangnya dirasakan sebagai sebuah kemenangan karena tak tertangkap.

Sedangkan entah bagi Si Satpol PP dengan berhentinya dia mengejar: mungkin….

Gangnya terlalu sempit dan motornya tak dapat masuk, atau…

Ia merasa kasihan pada Si Anak Penjual karena dilihatnya tinggal dua utas tali raffia sebagai gantungan sayur sawi dan kangkung yang berjatuhan saat dikejarnya.

Senja di sisa-sisa keramaian Pasar Baru Atambua

Hanya sorakan penyaksi yang menggema.

Atambua, 15 Oktober 2010

SEKRETARIS PRIBADI & PEJABAT NEGARA

GambarSEKRETARIS PRIBADI & PEJABAT NEGARA (Dili, Timor Leste)

Hahahaha….lucu.
Seorang teman tiba-tiba datang dan mengeluh: “Sial. Semua Sekretaris Pribadi pejabat negara cantik-cantik. Tapi ditempat kerjaku, Sekpri-nya bos, jelek betul !”
Cantik itu relatif. Benar. Tapi, indikator cantik secara fisik juga jelas. Setidak2nya menurut orang Asia, lebih2 yang di Asia Tenggara ini.

Cantik itu juga anugerah. Benar. Ia diberikan oleh Tuhan untuk berpasangan dengan yang jelek.
Cantik juga natural. Benar. Ia lahir dari genetik orang tua yang sempurna.
Tapi, benar2 tidak adil anugerah ini. Akibatnya, bagi yang masuk dalam kategori muka jelek, tidak terpilih sebagai Sekretaris Pribadi para pejabat negara di negeri ini (Timor Leste). Semua pejabat negara sepertinya memiliki selera yang sama: memilih sekpri yang berparas cantik. Makin cantik, peluangnya makin besar. Artinya, tidak perlu lagi melamar. Dengan sendirinya akan dilamar. Dan…
Akhir tahun ini, pasti….di Bali akan dipenuhi para wajah sekretaris pribadi tersebut. Akan ada 3 kamar dalam satu hotel: 1 untuk si pejabat; 1 untuk si istri; dan 1 lagi untuk sang Sekretaris Pribadi.
This entry was posted on 18 Desember 2012. 3 Komentar

TELKOMSEL TIMOR LESTE

Tower Central Telcomcel (Dili, Timor Leste)
Setan. Meskipun aGambarkan memunculkan persaingan harga dengan pihak Timor Telecom (Portugal)—yang artinya tidak ada monopoli lagi di sektor komunikasi—tetapi tower yang tingginya lebih dari 100 meter ini didirikan persis di belakang rumahku, tepatnya di kompleks apartemen milik keluarga pejabat tinggi negara ini (Timor Leste).

Persetan juga dengan namanya, apakah ‘telcomcel/telecomunication celuler’ atau ‘telin/telecomunication indonesia’ atau ‘telkomsel/telekomunikasi seluler’, toh yang mengadakan kontrak adalah pihak pemerintah. Bagiku yang terpenting adalah pelayanan internet dapat berjalan dengan cepat, tidak seperti sekarang: mirip penyakit lumpuh layu.
Babi juga, bagaimana kalau tower itu tiba-tiba roboh?
Bersyukur jika robohnya mengenai apartemen, setidak-tidaknya rumahku yang gubuk tidak berdampingan dengan bangunan yang penuh kemewahan tersebut.
Namun, ceritanya akan lain jika tower ini roboh ke rumahku…..!?
Alamat terkena kiamat awal….

Dili dan Elit Politiknya

DILI DAN ELIT POLITIKNYA

Dili dan Elit Politik (Timor Leste)

Vladimir Ageu DE SAFI’I

Terdapat satu benang merah yang dapat ditarik untuk mengidentifikasi elit politik di Timor Leste di era kemerdekaan. Bahwa “semua menggunakan karir perang atau keterlibatannya selama proses perjuangan pembebasan nasional melawan okupasi Indonesia.” Karir ini pula yang kemudian dijadikan sebagai satu-satunya tolak ukur untuk mengukur lawan-lawan politiknya sekaligus mencari legitimasi social politik pada masyarakat. Lebih jauh, lebel ini juga dipakai sebagai instrument untuk mendapatkan akses pada penguasaan ekonomi (baca: proyek pemerintahan). Karir ini juga yang kemudian dipakai untuk memberikan lebel kepada elit-elit politik pendukung integrasi terhadap Indonesia.

Baca Selengkapnya di: http://timorlestevladimirageudesafiikemamang.blogspot.com/2012/11/dili-elit-politiknya-timor-leste_9391.html

Timor Leste

Organização da Luta Massa Universitario (Povo) do Timor Leste

By Vladimir Ageu DE SAFI’I

Shock! Masyarakat Timor Leste yang hidup lebih dari 400 tahun di bawah sistem perbudakan kolonialisme Portugal dengan status sebagai budak. Situasi ini berubah manakala Indonesia masuk dengan kebijakan yang berlainan. Sejak invasi Indonesia tahun 1975, masyarakat Timor Leste menjadi masyarakat yang memegang uang. Artinya, babak kehidupan dengan pola baru dijalankan oleh penduduk ini.

Dengan dua system yang berbeda yang diterapkan oleh dua kolonialis yang berbeda ini pada akhirnya membentuk struktur social dan mentalitas masyarakat sebagaimana yang kita lihat saat ini: sebuah mentalitas seperti budak dan sekaligus pengemis.